Bulan
September dan Oktober 2 bulan ini, membuatku menjadikanku pribadi yang
berberbeda. Setiap harinya memiliki peran dalam kisahku. AndP laki-laki ini
membuatku penasaran dengan sifat pendiamnya, dia teman yang baik, sering berbagi
informasi tentang tugas kuliah, kami sering chat meskipun setiap bertemu jarang
menyapa. Aku punya simpatik terhadapnya, aku sering bercerita tentang chatku
dengannya kepada sahabatku Ana. Dan Ana menyimpulkan aku menyukainya meskipun
aku menyangkalnya. Aku tak mau keGR-an gara-gara pesan singkatnya yang punya
emoticon peluk, sama perhatiannya ketika aku kecelakaan. Simpatik yah simpatik
dengan sikapnya yang terlihat Jantan banget. Ckckckckckckck…
Tapi meskipun aku memiliki
seseorang yang dekat denganku, mempunyai rasa suka dan simpatik ini……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Trauma
serius dengan hubugan itu masih melekat, takut membuka lembaran baru dengan orang
baru. Aku hanya mengisi lubang yang kosong ini dengan TANPA adanya ikatan.
Karena dengan ikatan aku merasa terpenjara lagi dengan hal yang sama “CINTA”.
Jatuh
CINTA dengan lelaki yang baru itu butuh tenaga aku harus beradaptasi dengan
sifatnya, aku harus tau batasan privasinya, aku harus belajar memahami lagi,
mulai dari lembaran depan lagi. Aku memang tidak menutup hatiku, tetapi ruang
itu tidak begitu lebar terbuka. Bukan untuk CINTA tetapi untuk sebuah rasa yang lebih tulus rasa SAYANG. Yah aku membuka
lebar hatiku untuk rasa SAYANG bukan rasa CINTA.
Rasa
CINTA aku definisikan rasa ini satu paket dengan rasa SAKIT. Ketika aku berani mencintai
seseorang, berarti aku harus merasakan
rasa sakitnya mencintai.
Menjadi SINGLE itu menyenangkan, punya banyak teman, banyak
perhatian, banyak senyum, banyak hal aku lakukan sendirian (belajar mandiri),
banyak bercerita tentang beberapa laki-laki, tidak ada kata air mata, kata
maaf, bualan, ataupun janji palsu yang menggantung. Persetan dengan hubungan
rumit dengan keseriusan yang membuat seseorang tercekik.
Hubunganku
dengan Si F mulai memburuk kami sering bertengkar. Dia memiliki hubungan baru
dengan perempuan yang baru jelas aku cemburu dengan hal itu, karena dia sering
membicarakan perempuan itu ketika kami sedang bertemu.
Untuk
Acara Coffe TEP tanggal 7 Oktober lalu, jauh-jauh hari aku mengajak 2 laki-laki
kesana. Ada si A(mantan 3 tahunku) aku mengajaknya ketika aku masih menjadi
pacarnya, dan juga kakak tingkat teknik. Aku juga berusaha mengajak teman
sekelasku itu keacara music tersebut, tetapi dia tetap tak mau pergi. Dia tak
mau pergi ke acara tersebut karena mempunyai janji dengan sahabatnya. Dia menggantinya
dengan tiket acara musik lain, dan sebuah tawaran makan berdua. Dia care
terhadapku, selalu khawatir denganku, disela-sela kesibukannya dia tetap menyempatkan
menghubungiku. Aku tau dia memiliki kekasih, tetapi aku masabodoh dengan hal
tersebut.
Ada
satu lagi yang datang, dia adalah Angga dia laki-laki yang pernah dekat
denganku SMP dulu, dia pindah ke Bekasi setelah lulus SMP. Sekarang dia bekerja
disuatu perusahaan milik Negara, setiap malam dia menelfonku, menjadikanku
dekat dengannya lagi. Yang tidak aku suka darinya adalah kata-kata kasarnya
anak dari kota.
Ketika
kakak teknik mengambil tiket itu ke tempat kosku. Kami berada di depan gerbang
kos, tiba-tiba ada ibu-ibu yang meminta tolong kepada kami untuk dibelikan
bensin. Kami bersedia membantunya, karena kami hanya berdua Ibu itu mengira
kami adalah sepasang kekasih dan mendoakan kami langgeng. Aku hanya melihatnya
kemudian kami tertawa bersama.
Dari
hal-hal ini aku merasakan ada yang salah dariku, seharusnya hanya ada satu nama
yang bisa menyembuhkan luka. Bukan beberapa nama untuk menyembuhkan satu luka, itu
egois. Ketika aku harus menjatuhkan orang lain untuk sebuah lubang masalahku. Hanya
PELARIAN dari sebuah persoalan. Aku selalu bercerita kepada para sahabatku
mengenai hal ini, mereka bilang aku harus menentukan satu hanya satu bukan dua,
tiga, atau bahkan empat.
AndP
berbeda dengan laki-laki yang sedang dekat denganku, aku tidak berani bilang
bahwa kami dekat. Tatapan mengintimidasinya, cara bicaranya, sikap tenangnya.
Aku mulai menyukai hal itu!
Ketika
aku dan Ledy jalan-jalan di sebuah mall, AndP terus bbm dia bertanya mengenai
tugas daskom yang pertama. AndP membuatku dan Ledy ke Kampus jam 9 malam, hal
itu adalah keberuntungan untukku karena dengan datang kesana tugasku selesai di
bantu AndP. Malam itu, AndP meminjam Power bank kepadaku. Dan karena peminjaman
Power Bank tersebut, ada hati yang merasa tidak nyaman. Ada temanku yang
langsung bercerita ke grup kelas bahwa aku dan AndP sedang dekat, aku merasa
canggung ketika cerita ini menyebar.
Tiba ketika tanggal 7 Oktober, disini aku
menjadi Lyla versi anak SMA dulu. Sore harinya Aku seharusnya berangkat dengan
kakak teknik, tetapi kakak teknik itu tidak jadi datang dengan seribu macam
alasan, dan pada akhirnya aku berangkat dengan Atalya dan Ledy. Dari sana aku
membantu teman-temanku mendekorasi stand bazar kami, karena aku setengah jadi
laki-laki aku naik keatas kursi tanpa memperhatikan orang mau berkata apa
tentang hal ini.
Ketika malam tiba, kami harus
sudah berada di dalam gedung. Aku mengajak AndP turun untuk ajjojing tapi kami
hanya turun sebentar lalu kemudian kembali lagi. Aku mengajaknya sekali lagi,
apa yang terjadi dia mengajak teman perempuan satu offeringnya dan kemudian
wanita itu menggandeng AndP di depanku. Giamana ya sedikit kecewa, aku pikir dia akan
bersama denganku tetapi malah aku melihatnya digandeng orang lain (sumpah aku
baper pas iku). Karena aku sering ke acara seperti ini(hanya untuk menemani si
A ngeband) aku asik sendiri dengan ajjojingku tanpa memperhatikan orang lain
yang berdada didekatku disana ada Ana,
Ones, dan yang lainnya. Waktu aku sibuk dengan diriku sendiri, tiba-tiba ada
yang menarik rambutku dari belakang. Aku menoleh, ternyata adalah adikku namanya
Faisal, aku lebih tua darinya 2 bulan. Aku Ajjojing bersama adikku dan
teman-temannya. Saat kami ajjojing, si A datang menghampiri kami, dia
menginginkanku ajjojing bersamanya tentu aku tidak mau tetapi tetap ada paksaan
disitu, adikku hampir bertengkar dengannya. Aku merasa jengkel dengan tingkah
si A aku mundur. Ketika aku duduk bersama teman-temanku, si A datang lagi
memaksaku untuk bersama dengannya. Aku meng iya kan ajakannya hanya satu lagu
aku bersamanya, dia itu gila dia mengajak kekasihnya kesitu tetapi dia malah
ajjojing denganku. Jujur, hubungan 3 tahun itu berat sebenci-bencinya aku
dengannya, setidak maunya aku bertemu dengannya aku masih mempunyai rasa
perduli kepadanya. Dia yang pernah aku CINTAi, yang pernah aku puja. Aku masih
perduli tetapi tidak untuk menjadi keledai peliharaannya lagi. Yang paling
mengenal dia selama ini yah aku. Aku tau bagaimana sikapnya, tukang nekad,
tukang bikin onar, dia kesana mencariku jadi aku harus bertanggung jawab jika
dia berkelahi. Jelas dia adalah laki-laki yang mengajarkanku ketulusan
sekaligus kebodohan selama tiga tahun, aku pernah mencintainya menjadikan
prioritas setelah kedua orang tuaku. Betapa berartinya dia untukku dulu, betapa
banyaknya kekecewaan, kepedihan, air mata, dan kemarahanku terhadapnya.
Mencintainya cukup lama, sampai nama REVIERA belum aku hapus di jejaring
sosialku. Tidak mudah merelakannya juga. “WHEN I WAS YOUR MAN” itu adalah
ungkapan rasa terimakasihnya ketika aku mendapatkan laki-laki yang baru
nanti. Aku bahagia dia sehat, dia masih
bisa move on. Aku merasa tidak enak
dengan kekasihnya, aku mencoba kabur dari si A dan dia melepaskanku, dan aku
ajjojing sendirian tanpa teman. Ketika aku menoleh adikku di sampingku, dia
menemaniku sampai puncak, tetapi di seberang ada si A yang selalu melihat
kearahku. Ketika aku menoleh keseberang yang lain aku melihat AndP ajjojing
bersama Bayu. Aku menghampiri mereka berdua, tetapi yang menyapaku malah si
Bayu bukan si AndP. AndP sedang asik bersama alunan lagu, melihatnya membuatku
tersenyum sendiri *bahkan ketika mengetik cerita ini aku juga lagi senyum
memikirkan ini*. Kami hanyut dalam alunan lagu Souljah.
Tetapi, Ada bagian yang aku
terlupakan. Ketika aku asik sendiri aku melupakan para sahabatku, kita mulai
dari Ana. Saat itu dia tersakiti, dia mulai sering bertengkar dengan Ones. Ada
Ledy juga Atalya yang tidak suka keramaian itu. Kami berempat tidur di tempat
koss ku, berbagi cerita dan menguatkan Ana. Semangat sahabatku “merpati akan
tau dimana pasangan sayapnya berada”
Sama Atalya dan Ana
sama Ana
Bareng ciwi-ciwinya cah B
Cah Bhe





